Wahai perempuan
Kembang apa yang kau tanam
Keindahannya telah membuatku terkagum
Wanginya menebar harum
Kini kuberada jauh darimu
Kuning
Merah Jambu
Ungu
Namun indahnya terasa di kelopak mata
Harumnya menyentuh indera
Mengingatmu yang sedang kasmaran
Berdebar jantung di muka rumah
Berharap cemas
Bermuka ramah
Memeluk penuh harap...
Pengirim :
Dearlicious
+6281318041xxx
20:56:13
15/12/2009
Sunday, December 20, 2009
Sintesa Sakit Hati
Kuputuskan untuk kembali mencoba untuk yang kesekian kalinya
Tak ada satupun perubahan yang tampak nyata
Menginjakan kakiku diantara rel berkerikil
Menunggunya yang memuakkan batin
Geram dibuatnya terbakar teriknya mentari di siang bolong
Datang dengan peraduan kepada angin
Melayangkan helai demi helai rambutku
Memasukinya secepat kilat menyambar ranah bumi
Sedikit terseok mencari apa yang dapat kupegangi
Bagai ibu melahirkanku yang napasnya sedikit terputus-putus
Mencoba tegak dan mendapati aku tetap berdiri dengan kedua kaki yang kumiliki
Jarang aku berjibaku dengan sekumpulan manusia di tempat ini
Keriuhan pasar yang kutemukan diatas benda bobrok yang berjalan
Pasar diatas rel berlalu-lalang
Berteriakan nyanyian tuna netra dan segalanya
Begitu kelamnya
Pun sosok intelektual melesap disana
Membaur menjadi satu kesatuan
Umpatan hatiku ini ingin meledak rasanya
Tapi ramai
Siapa peduli suara siapa yang terdengar
Mereka semua Bisu, Tuli, dan Buta
Bahkan lebih bisu dari orang bisu sekalipun
Bahkan lebih tuli dari orang tuli sekalipun
Bahkan lebih buta dari orang buta sekalipun
Keluar aku dengan gontai
Tanpa segenap harapan hanya helaan napas panjang
Terbungkus selekat gumpalan darah dalam hati
Sintesa sakit hati
Tak ada satupun perubahan yang tampak nyata
Menginjakan kakiku diantara rel berkerikil
Menunggunya yang memuakkan batin
Geram dibuatnya terbakar teriknya mentari di siang bolong
Datang dengan peraduan kepada angin
Melayangkan helai demi helai rambutku
Memasukinya secepat kilat menyambar ranah bumi
Sedikit terseok mencari apa yang dapat kupegangi
Bagai ibu melahirkanku yang napasnya sedikit terputus-putus
Mencoba tegak dan mendapati aku tetap berdiri dengan kedua kaki yang kumiliki
Jarang aku berjibaku dengan sekumpulan manusia di tempat ini
Sesak
Peluh
Lelah
Kusam
Bobrok lebih tepatnya
Entah apa yang terjadi disini
Segala proses jual beli terjadi
Keriuhan pasar yang kutemukan diatas benda bobrok yang berjalan
Pasar diatas rel berlalu-lalang
Berteriakan nyanyian tuna netra dan segalanya
Begitu kelamnya
Pun sosok intelektual melesap disana
Membaur menjadi satu kesatuan
Mereka terlihat sama rata
Keluar masuk
Lalu lalang
Keringat bercucuran
Sesak
Umpatan hatiku ini ingin meledak rasanya
Tapi ramai
Siapa peduli suara siapa yang terdengar
Mereka semua Bisu, Tuli, dan Buta
Bahkan lebih bisu dari orang bisu sekalipun
Bahkan lebih tuli dari orang tuli sekalipun
Bahkan lebih buta dari orang buta sekalipun
Keluar aku dengan gontai
Tanpa segenap harapan hanya helaan napas panjang
Terbungkus selekat gumpalan darah dalam hati
Sintesa sakit hati
Wednesday, November 18, 2009
Let Me Try
Tak pernahkah ia tahu
Bahwa penolakan rasa cinta padanya ini begitu menyakitkan
Aku terlanjur mencintainya
Tapi aku yakin ia tak memikirkannya untuk saat ini
Kuyakin kita menolak keadaan ini
Situasi ini
Kebingungan dan sedikit kesalahpahaman
Kenyataannya aku bisa menerimanya dengan adanya dirinya
Terbesit aku akan bisa mencintainya pun tidak
Tapi keadaan berkata lain
Aku terbiasa
Cinta itu tumbuh karena terbiasa
Aku terbiasa dengan kehadirannya
Dan ia pun menyatakannya
Mengalir seperti air yang seharusnya
Tapi tak kukira aku masih meragukannya
Meragukan ketulusannya dan ketulusanku
Aku berharap bisa menjadi bagian dari dirinya
Menjalani hari-hari bersama dengan senyuman
Menunggunya dengan segala keinginan dan mimpinya
Mendampinginya dengan segala situasi
Mendukungnya dengan segenap jiwa yang kumiliki
Mengakhirinya dengan dia
Memutuskan untuk mencintainya
Memberikan hati ini yang jatuh padanya
Perlahan tapi pasti
Tapi kuyakin ia tak rela menyakitiku
Karena mungkin ia tak baik untukku
Tapi bisakah izinkan aku untuk mencoba
Memberikan yang terbaik yang kupunya
Memberikan yang terbaik yang kau butuhkan
Memberi sebaik mungkin dan menerima dengan adanya dirimu
Bahwa penolakan rasa cinta padanya ini begitu menyakitkan
Aku terlanjur mencintainya
Tapi aku yakin ia tak memikirkannya untuk saat ini
Kuyakin kita menolak keadaan ini
Situasi ini
Kebingungan dan sedikit kesalahpahaman
Kenyataannya aku bisa menerimanya dengan adanya dirinya
Terbesit aku akan bisa mencintainya pun tidak
Tapi keadaan berkata lain
Aku terbiasa
Cinta itu tumbuh karena terbiasa
Aku terbiasa dengan kehadirannya
Dan ia pun menyatakannya
Mengalir seperti air yang seharusnya
Tapi tak kukira aku masih meragukannya
Meragukan ketulusannya dan ketulusanku
Aku berharap bisa menjadi bagian dari dirinya
Menjalani hari-hari bersama dengan senyuman
Menunggunya dengan segala keinginan dan mimpinya
Mendampinginya dengan segala situasi
Mendukungnya dengan segenap jiwa yang kumiliki
Mengakhirinya dengan dia
Memutuskan untuk mencintainya
Memberikan hati ini yang jatuh padanya
Perlahan tapi pasti
Tapi kuyakin ia tak rela menyakitiku
Karena mungkin ia tak baik untukku
Tapi bisakah izinkan aku untuk mencoba
Memberikan yang terbaik yang kupunya
Memberikan yang terbaik yang kau butuhkan
Memberi sebaik mungkin dan menerima dengan adanya dirimu
Thursday, November 12, 2009
Simplicated Of Me
I am Me.
In all the world, there is no one else exactly like me.
Everything that comes out of me is authentically mine, because I alone chose it.
I own everything about me.
My body, my feelings, my mouth, my voice, all my actions, whether they be to others or myself.
I own my fantasies, my dreams, my hopes, my fears.
I own my triumphs and successes, all my failures and mistakes.
Because I own all of me, I can become intimately acquainted with me.
By so doing, I can love me and be friendly with all my parts.
I know there are aspects about myself that puzzle me, and other aspects that I do not know.
But as long as I am friendly and loving to myself, I can courageously and hopefully look for solutions to the puzzles and ways to find out more about me.
However I look and sound, whatever I say and do, and whatever I think and feel at a given moment in time is authentically me.
If later some parts of how I looked, sounded, thought, and felt turn out to be unfitting, I can discard that which is unfitting, keep the rest, and invent something new for that which I discarded.
I can see, hear, feel, think, say, and do.
I have the tools to survive, to be close to others, to be productive, and to make sense and order out of the world of people and things outside of me.
I own me, and therefore, I can engineer me.
I am me, and I am Okay.
In all the world, there is no one else exactly like me.
Everything that comes out of me is authentically mine, because I alone chose it.
I own everything about me.
My body, my feelings, my mouth, my voice, all my actions, whether they be to others or myself.
I own my fantasies, my dreams, my hopes, my fears.
I own my triumphs and successes, all my failures and mistakes.
Because I own all of me, I can become intimately acquainted with me.
By so doing, I can love me and be friendly with all my parts.
I know there are aspects about myself that puzzle me, and other aspects that I do not know.
But as long as I am friendly and loving to myself, I can courageously and hopefully look for solutions to the puzzles and ways to find out more about me.
However I look and sound, whatever I say and do, and whatever I think and feel at a given moment in time is authentically me.
If later some parts of how I looked, sounded, thought, and felt turn out to be unfitting, I can discard that which is unfitting, keep the rest, and invent something new for that which I discarded.
I can see, hear, feel, think, say, and do.
I have the tools to survive, to be close to others, to be productive, and to make sense and order out of the world of people and things outside of me.
I own me, and therefore, I can engineer me.
I am me, and I am Okay.
Dissatisfaction
Sudah terbayangkan semua yang akan terjadi
Tetapi mengapa tak sedikitpun ada yang membuatku bisa tersenyum dengan ikhlas
Aku merelakan semua rasa sakit yang ada dalam hatiku
Tetapi mengapa rasa ini terasa seperti api yang berkobar dengan hebatnya
Aku tahu aku tak seharusnya memikirkan hal ini berlarut-larut
Tetapi mengapa yang berlarut ini menjadikanku wanita yang menyalahkan berbagai sisi kehidupan
Aku masih waras
Aku masih bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata
Menerima semua konsekuensi kehidupan yang harus dijalani adalah kewajiban manusia selayaknya
Merasa yang terdekat dirampas membuat aku seolah-olah menjadi perompak hati
Merasa terkucilkan, terlupakan dan tak diperdulikan
Kemana sebenarnya keadaan yang dulu itu
Posisi awal yang membuat semua orang bertanya atas ketidakwajaran
Aku mencoba untuk bertahan dengan setiap pertanyan yang bertubi-tubi
Seiring berjalannya waktu bohong aku bisa lupa
Tapi aku harus bisa
Karena tak ada satupun yang patut dipertahankan dari sebuah ketidakpastian.
Tetapi mengapa tak sedikitpun ada yang membuatku bisa tersenyum dengan ikhlas
Aku merelakan semua rasa sakit yang ada dalam hatiku
Tetapi mengapa rasa ini terasa seperti api yang berkobar dengan hebatnya
Aku tahu aku tak seharusnya memikirkan hal ini berlarut-larut
Tetapi mengapa yang berlarut ini menjadikanku wanita yang menyalahkan berbagai sisi kehidupan
Aku masih waras
Aku masih bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata
Menerima semua konsekuensi kehidupan yang harus dijalani adalah kewajiban manusia selayaknya
Merasa yang terdekat dirampas membuat aku seolah-olah menjadi perompak hati
Merasa terkucilkan, terlupakan dan tak diperdulikan
Kemana sebenarnya keadaan yang dulu itu
Posisi awal yang membuat semua orang bertanya atas ketidakwajaran
Aku mencoba untuk bertahan dengan setiap pertanyan yang bertubi-tubi
Seiring berjalannya waktu bohong aku bisa lupa
Tapi aku harus bisa
Karena tak ada satupun yang patut dipertahankan dari sebuah ketidakpastian.
Subscribe to:
Posts (Atom)